Keris dan Falsafah Jawa



Keris dan Falsafahnya

Suku bangsa jawa pada masa lalu gemar berfalsafah dan berolah batin. Oleh karena itu, bentuk bentuk keris dan kelengkapannya hampir selalu dikaitkan dengan berbagai nilai falsafah.
Misalnya keris berdapur Brojol, mengandung falsafah dan harapan agar semua yang direncanakan oleh sipemilik dapat terlaksana dengan lancar, termasuk lancarnya persalinan pada wanita yang sedang melahirkan anaknya.
Keris dengan dapur Sabuk Inten, mengandung harapan agar pemiliknya mendapatkan kesuksesan duniawi.


Ganja tinatah Banteng dan Singa, mengandung falsafah mengenai pertentangan antara kebaikan dan keburukan,antara benar dan salah yang selalu ada dalam batin dan kehidupan setiap manusia.
Demikian pula halnya dengan sarung atau warangka keris, baik Ladrang (Surakarta),Branggah (Yogyakarta),Gayaman, maupun Sandang walikat, bentuk bagian depan lebih rendah,pendek,kecil sedangkan bagian belakang tampak lebih tinggi,panjang,dan besar.Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa bentuk asimetris yang berat di bagian belakang itu dipengaruhi kehidupan orang jawa yang andhap asor,wani ngalah luhur wekasane ,artinya : rendah hati,mengalah dulu untuk mendapatkan keluhuran pada ahirnya.
Pendapat lain mengatakan bahwa asemetris itu dipengaruhi oleh kaidah keseimbangan estetis.
Bagian depan keris ada sisi bilah yang dinamakan  Gandik dan Kembangkacang yang selalu diposisikan menghadap kekiri.Bagi orang jawa, kiri sering dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat negatif. Hal itu juga dicerminkan oleh simpingan tengen (kanan) dan simpingan kiwa (kiri) dalam panggung pagelaran wayang kulit. Pada simpingan tengen dijajarkan tokoh-tokoh wayang yang bersifat baik sedangkan pada simpingan kiwa dijajarkan tokoh-tokoh wayang yang bersifat buruk/jahat. Analog dengan keris dan warangka yang ditradisikan menghadap kiri, manusia seyogyanya selalu berusaha memberantas hal yang tidak baik. Dalam keadaan terbelenggu sekalipun semangat kanan harus selalu ditegakkan.
Bahan pamor pada bilah keris yang paling baik adalah yang berasal dari batu meteor. Meteor berasal dari angkasa yang pada jaman dulu dipercayai sebagai pemberian dewa. Apabila pemberian dewa itu dipadukan dengan bahan dari bumi yaitu besi dan baja, dipercaya akan menghasilkan pusaka yang bertuah. Konsep ini selaras dengan falsafah bersatunya BAPAK AKASA dengan IBU PERTIWI ,sehingga anaknya kelak akan menjadi ampuh,dan secara visual juga meningkatkan Guwaya (ekspresi) keris tersebut.Inilah sebabnya keris sering dianggap lambang produk kosmis,antara bahan yang berasal dari bumi sebagai ibu atau unsur maternal dan bahan yang berasal dari angkasa sebagai ayah atau unsur paternal.
Perlambangan maternal dan paternal ini juga melekat pada alat yang digunakan oleh pandhe besi dan pembuat keris. Paron (besi landasan tempa) dianggap lambang bumi atau ibu, karena letaknya dibawah dan statis tertanam pada tanah, sedangkan palu yang bergerak jika digunakan untuk menempa, dianggap lambang angkasa atau unsur laki-laki.Peranan paron dan palu itu juga dibantu oleh perapen (tungku pengapian) sebagai lambang unsur api, ububan sebagai lambang angin,serta ciblon (bak berisi air) sebagai lambang unsur air. Dengan demikian,lengkaplah kesatuan angkasa,bumi,api,angin dan air. Falsafah Jawa masa lalu juga mengakui perlunya kehidupan manusia menjalin keseimbangan dengan alam sekitarnya, misalnya terhadap sesama manusia,hewan,dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu,karena pertumbuhan budaya perkerisan itu berlangsung pada masa agraris, maka banyak digunakan ungkapan bahasa dalam perkerisan yang bersifat agraris.
Perhatikan nama dan istilah dari dunia tumbuhan berikut ini :
  • Pola pamor : Blarak Ngirid/Blarak Sineret,Kenanga Ginubah,Kulit Semangka,Melati Rinonce,Sekar Glagah/Sekar Tebu,Sekar Lampes,Tebu Kineret dll.
  • Ricikan bilah : Pudhak Sategal,Ri Pandan
  • Bentuk dhapur : Bakung,Tebu Sauyun
Dari dunia hewan dapat dilihat nama dan istilah berikut :
  • Pola pamor : Kupu Tarung,Lar Gangsing,Ri Wader,Uler lulut.
  • Ricikan bilah : Lambe Gajah
  • Bentuk dhapur : Kidang Soka
  • Bentuk ganja : Cangkem Kodok
  • Ujung ganja : Sirah Cicak
  • Ujung bilah :  Buntut Tuma
Sifat Flora dan Fauna juga tampak dalam berbagai kepercayaan tentang adanya tuah pada jenis tanaman tertentu dan bagian tubuh hewan tertentu. Kelor misalnya,dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat digunakan untuk menyembuhkan orang yang kesurupan,dan membuang ilmu orang yang sedang sekarat agar tidak menderita menjelang ajalnya. Palm wregu ,bila ditanam di halaman rumah,dipercaya sebagai penunggu rumah agar tidak diganggu mahluk halus.Taring Harimau digunakan sebagai aksesoris kaum pria karena dipercaya menambah keberanian orang yang memakainya. Kulit Macan tutul digunakan sebagai ikat pinggang karena dipercaya dapat menambah kewibawaan pemakainya.
Bagi orang jawa, keris dianggap sebagai hasil proses cipta,rasa,karsa,dan karya. Cipta mengharuskan pembuatan sebilah keris dibekali pengetahuan,pengalaman,wawasan tentang simbolisme,dan kemampuan rekayasa dari Sang Empu. Agar kemampuan cipta bisa optimal, Sang Empu juga melakukan semadi untuk mendapatkan wangsit,atau petunjuk gaib dari Tuhan.
Rasa, mengharuskan empu mempunyai kepekaan akan keindahan,keseimbangan,keadilan,tepo seliro (toleransi),altruisme (memikirkan kebutuhan orang lain), dan sikap andhap asor (rendah hati).Dengan demikian, ia akan menjadi peka terhadap nilai estetika dan etika yang universal.
Karsa,mengharuskan empu dalam karyanya memiliki kemauan dan niat yang kuat,dengan keyakinan bahwa apa yang dikerjakannya merupakan tugas yang mulia. Karena itu dalam berkarya ia akan bekerja dengan sikap berserah jiwa dan raga. Pekerjaan itu harus dihayati sebagai tugas suci. Dengan Cipta, Rasa, Karsa itu,akan muncul Karya yang bermanfaat bagi sesama,dan bernilai tinggi secara teknis,estetis,etis,simbolis,dan spiritualis.


(Sumber : Buku KERIS JAWA antara Mistik dan Nalar)

Belum ada Komentar untuk "Keris dan Falsafah Jawa"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel