Keris Dalam Kisah Pewayangan

Keris dalam cerita Wayang Kulit Jawa


Dikisahkan, dalam cerita Pewayangan, Para Dewa telah menurunkan beberapa Keris Pusaka untuk titah ing marcapada ( manusia terpilih di Dunia). Keris-keris Pusaka tersebut diberikan kepada para Kesatria darah Bharata, baik itu kesatria Astina maupun kesatria Pandawa. Tentu saja itu sebagai anugrah atas jasa-jasanya kepada Dewa.
Akan tetapi dalam perang besar Bharatayuda, keris-keris Pusaka tersebut banyak yang lenyap. Baru dikemudian hari, Para Raja di tanah jawa memerintahkan kepada para Empu terpilih untuk membuat putran (tiruan) Keris-keris Pusaka tersebut.
Dengan ketinggian Ilmu Spiritual dan tapa brata, maka ditemukanlah bentuk-bentuk keris tersebut.

Konon, setelah Empu yang bersangkutan mendapat petunjuk dari Hyang Widi, maka dibuatlah gambar pola dan kemudian dihadapkan kepada Raja yang memerintahkannya.
Setelah disetujui oleh Sang Raja, kemudian Sang Empu mempersiapkan segala sesuatunya. Baik itu alat-alat untuk bekerja, menyiapkan Besalen (tempat penempaan keris) dan dilengkapi pula dengan sesajian, persiapan bahan-bahan untuk pembuatan keris tersebut.


Keris-keris Pusaka yang dijadikan  Pusaka andalan para Kesatria dan Tokoh Pewayangan, adalah :
  1. SANG LARNGATAP, berbentuk lurus.
  2. SANG PASOPATI, berbentuk lurus.
  3. SANG CUNDRIK, berbentuk melengkung seperti rencong.
  4. SANG JALAK DINDING, berbentuk lurus.
  5. SANG KALAMISANI, berbentuk lurus.
  6. SANG TILAM UPIH, berbentuk lurus.
  7. SANG SEPANG, berbentuk lurus.
  8. SANG SEMPANER, berbentuk lurus.
  9. SANG YUYU RUMPUNG, berbentuk lurus.
  10. SANG KEBO LANJER, berbentuk lurus.
  11. SANG SINGOHO, berbentuk lurus.
  12. SANG BANGODHOLOG, berbentuk luk 3 (tiga).
  13. SANG BAKUNG, berbentuk luk 5 (lima).
  14. SANG CARUBUK, berbentuk luk 7 (tujuh).
  15. SANG BALEBANG, berbentuk luk 11 (sebelas).
  16. SANG SEMPONO, berbentuk luk 9 (sembilan) dan luk11 (sebelas).
  17. SANG SANTAN, berbentuk luk 11 (sebelas).
  18. SANG KARACAN , berbentuk luk 19 (sembilan belas).
Keris-keris tersebut diatas dikisahkan adalah Keris-keris Pusaka milik Para Kesatria Pandawa dan Kesatria Kurawa dalam kisah Pewayangan. Mereka tentu sangat mempercayai akan keampuhan dari Keris-keris Pusaka tersebut.
Keris Pusaka yang telah hilang dijaman perang Bharatayuda tersebut tentu saja masuk ke Tangguh Kuno yang lazimnya ditambah sebutan " SANG " di depan nama dapur keris tersebut, ditambah dengan " KYAI " sebagai rasa penghormatan.
Dengan pola dasar dari keris-keris tersebut diatas, selanjutnya berkembang berbagai ragam bentuk Keris sampai Zaman sekarang ini.

Keris Pemotong Pusar Jabang Tetuka ( Gatotkaca)
Dunia Pewayangan memang sarat dengan kisah-kisah yang misterius hubungan antara Manusia dengan para Dewa sangat akrab.
Bahkan Manusia dapat melawan Para Dewa. Manusia dapat mengawini Bidadari, tentu saja perkawinan manusia dengan bidadari itu terjadi sebagai hadiah atas jasa manusia kepada para Dewa.
Hasil perkawinan tersebut melahirkan Kesatria pilih tanding sakti mandraguna. Contohnya adalah :
Raden Bambang Wisanggeni, buah perkawinan Raden Arjuna dengan Bidadari putri Sang Hyang Brahma yang bernama Dewi Drestonolo.
Suatu ketika, istri Raden Bima akan melahirkan. Betara Guru telah meramalkan ; kalau bayi yang terlahir dari rahim istri Raden Bima ini, kelak akan menjadi jagonya para Dewa, dan akan mengalahkan Prabu Pracona dari kerajaan Guwakrenda yang telah membuat kekacauan kahyangan.
Tatkala bayi Tetuka (Raden Haryo Gatutkoco) telah lahir, konon tali pusarnya tidak dapat dipotong oleh senjata apapun.
Oleh karenanya Raden Arjuna lalu bertapa untuk memohon petunjuk dari Dewa. Berbarengan dengan itu, Adipati Basukarno / Raden Suryaputra juga bertapa memohon Senjata Pusaka dari Dewa. Wajah Raden Arjuna dan Raden Suryaputra ini sangat mirip sehingga Batara Narada yang diutus untuk menyerahkan Pusaka Sang Kuntajayadanu kepada Raden Arjuna, salah menyerahkannya kepada Raden Suryaputra. Padahal Pusaka tersebut yang mau dipakai untuk memotong tali pusar Bayi Tetuka.
Batara Narada yang belum menyadari kesalahannya itu kemudian terbang mau kembali ke kahyangan. Tetapi ketika terbang diangkasa, Batara Narada menyaksikan cahaya terang benderang dari salah satu gua tempat Raden Arjuna bertapa.
Batara Narada yang mengetahui bahwa Raden Arjuna masih bertapa merasa heran kenapa setelah permohonan Raden Arjuna dikabulkan kenapa dia masih bertapa.
Batara Narada kemudian turun kembali ke Bumi dan menemui Raden Arjuna dan menanyakan alasannya. Alangkah terkejutnya Batara Narada setelah mengetahui penuturan Raden Arjuna bahwa dia belum menerima Pusaka Permohonannya.
Setelah Batara Narada menyadari kekeliruannya, maka diketahuilah bahwa yang menerima Pusaka Kuntajayadanu adalah Raden Basukarno, maka selanjutnya terjadi perselisihan sampai perang tanding antara Raden Arjuna dengan Raden Basukarno untuk merebutkan pusaka Kuntajayadanu.
Dalam pertempuran perebutan pusaka tersebut, Raden Arjuna bisa merebut sarung / warangka Senjata Kuntajayadanu, sedangkan bilah Pusakanya dibawa kabur oleh Raden Basukarno.
Batara Narada menahan Raden Arjuna untuk tidak mengejar Raden Basukarno dan memberi wejangan bahwa Jabang Tetuka akan diangkat ke kahyangan setelah tali pusarnya putus.
Maka singkat cerita, dikisahkan pusar Jabang Tetuka bisa dipotong memakai sarung Pusaka Kuntajayadanu yang kemudian lenyap masuk kedalam pusar Jabang Tetuka.
Dan dikisah perang Bharatayuda, Raden Gatotkaca gugur dimedan perang oleh Senjata Pusaka Kuntajayadanu yang melesat masuk kepusar Raden Gatotkaca, yang artinya bahwa Pusaka Kuntajayadanu masuk kembali kesarungnnya.
Dalam kisah pewayangan jawa, senjata Kuntajayadanu adalah sebilah Keris Pusaka dari Dewa.

(Sumber: Buku KERIS, DAYA MAGIC, MANFAAT, TUAH, MISTERI)

Belum ada Komentar untuk "Keris Dalam Kisah Pewayangan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel